Selasa, 31 Agustus 2010

Musikku Indonesiaku


Seperti apa sebenarnya musik indonesia.....??

Agak susah untuk menjawab pertanyaan diatas. klo melihat fenomena munculnya band2 baru sekarang ini yang bak jamur di musim hujan, susah untuk menjabarkan seperti apakah musik indonesia sekarang ini.

Bicara Musik adalah bicara selera. Dari kacamata saya sebagai penikmat musik dan sekaligus Music Director di sebuah radio swasta, apa yang terjadi pada dunia musik indonesia sekarang ini sedikit memprihatinkan. kenapa..? walaupun sekarang ini sepertinya musik indonesia sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tapi apalah artinya kalo tidak diiringi dengan unsur musikalitas yang tinggi yang memperhatikan kreativitas dan kualitas dalam bermusik. Musik Tanah Air sekarang kebanyakan dikendalikan oleh selera pasar. Keuntungan bisnis masih jadi fokus utama sehingga kualitas karya pun sering dinomor duakan

Banyak penyanyi dan band2 baru bermunculan sepertinya hanya mengejar kepopoleran dan materi [yang penting lagunya laku, tidak peduli dengan lirik yang asal2an, tdk cerdas dan tidak mendidik]. bahkan mereka yang basic-nya bukan penyanyi pun seperti terkena virus 'aji mumpung'... mumpung terkenal ikut2an bikin album [tanpa bermaksud mengecilkan mereka yang memang benar2 punya talenta bermusik] , lagu yang dibuatpun terkesan asal2an dengan lirik seadanya, bahkan kadang ada lagu yang liriknya hanya perulangan kata2 saja, adaptasi dari lagu laen[klo tidak ingin dikatakan menjiplak], liriknya lucu, anak kecilpun bisa ikutan nyanyi... [hmm..]

banggakah kita dengan kondisi ini..? ato kita justru senang karena anak2 dibawah umur sudah bisa menyanyikan lirik2 lagu ST12, Ungu, D'Baginda, d'masiv...dll yang sebenarnya bukan untuk konsumsi mereka. Mungkin karena liriknya yang sangat easy listening sehingga cepat akrab ditelinga mereka.

Terus terang, saya kangen dengan lagu2 pop kreatip era 80 - 90an. Sebut saja di tahun 80-an dulu kita punya ajang kreativitas musik dalam negeri berbalut 'Festival Lagu Populer Indonesia' yang banyak menghasilkan penyanyi dan musisi muda berbakat waktu itu, Elfa's Singers, Vina Panduwinata, Yovie Widianto, Harvey Malaiholo, Utha Likumahua, Oddie agam, dan masih banyak lagi

Bahkan, yang membanggakan di Era 90an, banyak lagu2 indonesia yang merajai festival di luar negeri, seperti di ajang Asia Bagus, yang menghasilkan Krisdayanti, Rio Febrian dll.
Ada rasa bangga yang terselip ketika menyaksikan lagu2 indonesia ternyata banyak disuka dan dinilai baik oleh negara lain [saya dulu sempat membandingkan dengan acara2 musik di televisi radio tetangga krn kebetulan kami berlangganan TV Kabel]

Dulu ada salah satu acara musik di RCTI [saya pikir ini merupakan cikal bakal tayangan musik televisi yang menjamur sekarang ini], namanya ROCKET, waktu itu pembawa acara Jefri waworuntu dan gladys suwandi klo gag salah, saya sangat suka dgn program ini, karena beda dengan tayangan musik yang biasanya dilakukan didlm studio. ROCKET sering mengambil setting outdoor dan muter video klip, bukan live musik seperti yang sekarang ini marak dengan penonton berjubel. Ada kesan elegan, keren saat nonton tayangan ini dibandingkan tayangan2 serupa pada saat itu.

hmm...kayakna terlalu panjang ya kalo ngomongin musik dulu dan sekarang. yang jelas saya nulis blog ini sebagai bentuk keprihatinan saja terhadap kualitas musik indonesia [walaupun tidak semuanya, krn masih ada musisi2 yang tetap pada jalurnya menciptakan lagu2 yang kreatif dari sisi lirik maupun kualitas musiknya].

Mengutip pernyataan dari Bens Leo [pengamat musik, yang sempat beberapa kali saya wawancarai] jika membicarakan mutu produk yang dihasilkan anak bangsa tidak bisa dilihat hanya dari jenis musik yang dibuat saja karena ini terlalu subyektif. tidak ada parameter yang jelas untuk mengukur mutu dari suatu produk musik karena hal itu harus pula mengaitkan faktor-faktor eksternal di luar aransemen musik contohnya fenomena ST12, sebuah band yang kerap membawakan lagu-lagu Melayu. Menurutnya, STI2 bisa dikatakan sebagai band berkualitas.Parameternya, pada awal kemunculannya, STI 2 mampu mendobrak mainstream mengenai irama Melayu yang sering kali dicap kampungan. Band yang dikomandani oleh Carly, sang vokalis itu mampu menciptakan lagu-lagu yang bisa diterima masyarakat, bahkan album mereka laku keras di pasaran. Industri rekaman pun menerima lagu-lagu mereka dengan tangan terbuka hingga akhirnya lagu berirama Melayu menjadi tren dalam kurun tiga tahun belakangan ini.

Tapi bicara mengenai lagu2 melayu ini..kebetulan radio tempat saya bernaung sangat2 selektif dalam pemutaran lagu di playlist harian. Karena saya yang kebetulan kebagian pegang kendali di musik, sayalah yang pasang badan kalo ada pihak2 yang bertanya bahkan protes, kenapa lagu yang di request tidak pernah diputar.

Pengalaman yang menarik, ketika ada anak magang dari sebuah SMK, yang pas hari itu kebagian tugas bikin playlist, berbagai pertanyaan timbul, mulai dari 'koq lagunya tua2..', ' koq gag muter lagunya ST12, aishiteru-nya sivilia, dan sederet lagu2 yg lg 'ngetren' skrg ini.., ' aq gag kenal ma lagu2nya mbak..'

Hlaa..... ya iyalah waktu lagu itu hits mereka mungkin masih balita. Dan pada masa itu jarang ada anak balita bisa nyanyiin lagu orang dewasa, paling2 mereka kenal lagunya Melisa[semut-semut kecil], ato abang tukang bakso dan lagu2 anak2 yang nge-top pd saat itu.. [sekarang koq gag ada lagi ya...hiks..berganti menjadi ‘Aishiteru’ dan ‘ Ce I En Te A’..].

Tapi menariknya ada pengakuan dari mereka, kalo ternyata lagu2 lama bagus2, enak didengar juga. [mudah2an jujur, bukan buat nyenengin saya aja].

Yang menarik lagi selama 3 tahun menjadi MD, saya sering bersitegang dengan pimpinan saya. Saya yang bersikukuh dengan Format Musik Networks [radio saya salah satu jaringan radio terbesar di indonesia] kadang harus berbenturan dengan kemauan pimpinan yang terlalu ingin mengikuti selera pasar [memutar lagu2 bernuansa agak melayu2an spt yg ‘ngetren’ sekarang ini]. Tapi, syukurlah saya masih punya argumen yang kuat sehingga playlist harian saya ‘tidak terkontaminasi’. Hasil diskusi dengan teman2 MD Networks juga semakin menguatkan saya, bahwa saya harus bisa mempertahankan ciri khas lagu2 yang diputar di radio kami, bukan berarti kami antipati dan tidak menghargai karya mereka. Sebagai contoh, kami tetap memutar lagu ST12 ato band2 lain dengan catatan sesuai dengan format musik radio kami. Jadi bukan subyektif pada kelompok/band-nya, tapi lebih kepada jenis musiknya, dan ini merupakan area private radio untuk menentukan mana lagu2 yang bisa ‘Airplay’ mana yang tidak.

Musik memang tidak sekedar untuk didengarkan saja, tapi juga dirasakan......dinikmati......Let The Music Heal Your Soul....

Jangan pernah berhenti untuk menghasilkan karya2 kreatip, dan waktu nanti yang akan membawa kita mengenal lebih jauh, seperti apa sebenarnya musik indonesia itu. Musik indonesia pasti akan menemukan jatidirinya.

Salam musik indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar